Love Story Yudha & Suchi
Love Story Yudha & Suchi
Bangko, 14 Maret 2020
Hari yang Bersejarah: 14 Maret 2020
Hari ini, tepat 14 Maret 2020, adalah hari yang tak akan pernah aku lupakan. Sebuah catatan bersejarah dalam hidupku yang akan dikenang sepanjang waktu. Hari ini, wanita yang selama ini aku impikan—wanita yang akan menjadi istriku, calon ibu dari anak-anakku—akhirnya akan menjadi kenyataan. Namanya adalah Suchi Isti'anah, seorang gadis cantik asal Kabupaten Bangko yang kebetulan adalah teman seperjuanganku dulu dalam KKN (Kuliah Kerja Nyata).
Semua dimulai di Balairung Universitas Jambi, tempat yang penuh dengan kenangan. Kami berdua adalah mahasiswa dan mahasiswi di Universitas Jambi, namun dari dua jurusan yang berbeda. Aku, yang saat itu berada di Program Studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, dan dia, Suchi, yang berada di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Walaupun kami berbeda jurusan, kami memiliki satu kesamaan yang sangat besar: semangat untuk berjuang dalam menuntut ilmu dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat sekitar.
Kehidupan kampus kami dipenuhi dengan berbagai macam cerita, tugas-tugas, dan kegiatan bersama teman-teman yang luar biasa. Namun, tak ada yang seindah cerita yang kami miliki tentang KKN. KKN adalah titik awal kami bertemu dan mengenal satu sama lain lebih dekat.
Aku masih ingat betul bagaimana pertemuan pertama kami terjadi. Saat itu, kami semua, mahasiswa yang terpilih untuk program KKN, berkumpul di Balairung Universitas Jambi untuk menjalani orientasi. Ruangan itu penuh dengan mahasiswa dari berbagai jurusan, saling mengenal dan berkenalan. Di antara keramaian itu, mataku tertuju pada seorang gadis berhijab yang mengalihkan duniaku.
Kami diberi tugas untuk pergi ke sebuah desa di daerah Pamenang, yaitu Desa Pulau Tujuh. Di sana, kami bekerja sama untuk mengajar anak-anak dan juga membantu masyarakat dengan berbagai kegiatan sosial. Aku dan Suchi menjadi tim yang solid. Kami saling melengkapi dalam banyak hal. Meskipun kami berasal dari jurusan yang berbeda, ada sinergi yang luar biasa antara kami dalam merencanakan program-program yang bermanfaat untuk desa tersebut. Kami tak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga belajar banyak tentang kehidupan dan nilai-nilai yang ada di masyarakat.
Setiap harinya, aku semakin merasa nyaman dan semakin tertarik padanya. Suchi bukan hanya pintar dan cerdas, tapi juga sangat peduli pada orang lain. Dia selalu bisa membuat suasana menjadi lebih hangat dan menyenangkan. Ketika aku merasa lelah dengan berbagai tugas, dia selalu ada untuk memberikan semangat. Senyumnya, kehangatannya, dan perhatian kecilnya selalu berhasil membuatku merasa lebih baik.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. KKN yang awalnya hanya terasa sebagai sebuah tugas kuliah, perlahan berubah menjadi sebuah perjalanan emosional yang tak ternilai harganya. Aku mulai menyadari bahwa perasaan yang aku miliki padanya bukan sekadar perasaan teman, tetapi sesuatu yang lebih dalam. Mungkin, apa ini cinta ?.
Namun, aku bukanlah tipe orang yang mudah untuk mengungkapkan perasaan. Aku takut jika perasaan ini merusak persahabatan kami. Aku takut jika aku salah mengartikan semua yang aku rasakan, takut jika aku malah merusak hubungan baik yang sudah kami bangun. Tapi, di dalam hatiku, ada satu keyakinan yang semakin kuat: aku ingin dia menjadi bagian dari hidupku selamanya.
Saat KKN diperjalanan menuju posko, di tengah jalan pas sekali motor sedikit ada trouble seperti waktu yang tepat. Aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Saat itu, aku tak bisa menahan perasaan ini. Aku harus memberitahunya apa yang aku rasakan.
Aku ingat betul, hari itu adalah salah satu momen paling mendebarkan dalam hidupku. Saat itu, langit senja mulai menguning, dan udara di sekitar kami terasa begitu tenang. Aku menghadapinya, dan dengan hati berdebar, aku akhirnya mengatakan semuanya.
"Suchi, ada yang ingin aku katakan," kataku pelan. "Aku… aku sudah lama menyimpan perasaan ini. Mungkin, ini terdengar tiba-tiba, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Lebih dari sekadar teman, lebih dari sekadar rekan KKN. Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku, sekarang dan selamanya."
Ternyata responnya tak seperti yang aku harapkan. "aku tak bisa menjawab itu sekarang, kita lihat sampai mana ujungnya hubungan ini" jawabnya dengan lembut. Wanita ini memang beda, selalu ada kejutan-kejutan yang membuatku semakin penasaran, aku berjanji suatu saat akan membuktikan cintaku kepadamu bukan hanya perkataan semata.
Saat itu rasaku bukan sebuah penolakan tetapi, seperti si dia ingin tahu sejauh mana aku mampu memperjuangkanya, membawa cinta ini seperti yang ku impikan. Sejak saat itu, hubungan kami bukan semakin menjauh tetapi berkembang semakin dekat. Kami melangkah bersama, membangun mimpi bersama, dan saling mendukung dalam setiap langkah yang kami ambil.
Kini, tepat pada 14 Maret 2020, hari yang aku impikan selama ini akhirnya tiba. Aku akan menikahi wanita yang aku cintai. Suchi Isti'anah, gadis asal Bangko yang telah menjadi bagian dari hidupku, yang telah melengkapi hari-hariku dengan kehangatan dan kebahagiaan, akan menjadi istriku. Hari ini adalah awal dari perjalanan baru kami. Bersama, kami akan membangun keluarga yang penuh cinta, membesarkan anak-anak yang akan menjadi generasi penerus yang penuh harapan.
Dengan penuh rasa syukur, aku mengucapkan janji untuk selalu mencintainya, mendampinginya, dan menjadi pasangan hidup yang setia, baik dalam suka maupun duka. Inilah kisah kami yang akan terus kami kenang sepanjang hidup.





















































































































Komentar
Posting Komentar